11 Maret 2007

Banjir dan Asuransi

Banjir besar kembali melanda Jakarta awal Februari silam. Kali ini jauh lebih dahsyat dibanding banjir besar lima tahun sebelumnya (2002) dan sebelumnya lagi (1996).

Rumah kami yang pada dua banjir besar sebelumnya tidak kebanjiran, kali ini harus merasakan dinginnya tamu tak diundang itu. Air masuk ke dalam rumah hingga di atas mata kaki (20 cm). Namun, setelah banjir berlalu kami merasa terhibur juga. Pasalnya, barang-barang kami yang rusak diganti baru oleh perusahaan asuransi. Padahal barang-barang yang disebut ‘rusak’ itu sebenarnya tidak rusak-rusak amat. Dan jika ditinjau dari kondisi barang-barang itu sebelum terendam banjir, mereka sebenarnya sudah pantas dipensiun, mengingat umur mereka yang sudah sepuluh tahun.

Kami bersyukur karena mendapat pelayanan yang memuaskan dari perusahaan asuransi. Sambil mendata dan memotret barang-barang yang rusak, dua orang petugas asuransi yang datang membantu mencari barang apa lagi yang rusak. Saya sempat ditanya, apakah kulkas dan dispenser rusak? Saya jawab, "Tidak, itu tidak apa-apa." (Dispenser sudah diungsikan ke lantai atas untuk keperluan kami minum. Tetapi kulkas, karena berat, kami biarkan di lantai bawah.)

Saat itu juga diputuskan bahwa kami akan mendapat penggantian tempat tidur, rak TV, lemari pakaian besar, dan meja komputer. Caranya, kami membeli barang-barang yang sama terlebih dahulu, kemudian mengajukan kwitansinya untuk mendapat penggantian. Selain itu, biaya perbaikan lantai dapur yang melembung karena terendam banjir juga mendapat penggantian.