17 Desember 2010

Pengalaman di Gardu Khusus e-Toll

Tanggal 15 Desember 2010 yang lalu saya menjemput istri, ibu mertua, dan ketiga putra-putri kami yang baru selesai berlibur di Perth, Australia.

Mereka berangkat dan pulang dengan pesawat Air Asia lewat Denpasar, Bali. Bukan sekadar transit, tapi menginap sehari semalam di Bali ketika berangkat, dan sehari semalam lagi ketika pulang.

Berangkat dan pulang dari Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta. Beda banget terminalnya dengan Terminal 1 dan 2 yang kita kenal selama ini. Arsitekturnya minimalis, tapi fasilitasnya modern.

Pengantar, penjemput, atau sekadar pengunjung boleh masuk sampai ke dalam, hingga batas Boarding Lounge. Di dalam para pengantar, penjemput, dan pengunjung yang masuk berbaur dengan calon penumpang yang sudah melakukan check-in.

Semua toko, restoran, kafe, executive lounge, toilet, dsb yang bisa dinikmati oleh calon penumpang juga bisa dinikmati oleh pengunjung, penjemput, dan pengantar.

Berbeda dengan Terminal 1 dan 2, yang mana setelah melewati pintu masuk khusus penumpang, semua fasilitas yang berada di bagian dalam hanya bisa dinikmati oleh calon penumpang.

Catatan:
Penerbangan Jakarta - Denpasar - Jakarta adalah penerbangan domestik. Sehingga, walaupun tujuan sebenarnya adalah luar negeri, tapi ketika berangkat dari Terminal 3 tidak diperlukan paspor. Paspor baru digunakan dalam penerbangan Denpasar - Perth - Denpasar.

* * *

Sekitar pukul 14.45 saya berangkat dari rumah. Masuk tol dalam kota dari gerbang Kemayoran (rumah kami di Sunter) – bayar Rp 6.500.

Ketika akan bayar lagi di gerbang tol Cengkareng, dengan penuh keyakinan saya mengambil lajur paling kanan, yang kemudian oleh petugas diarahkan ke gardu kedua dari kanan.

Apa yang terjadi? Ternyata dua lajur paling kanan itu khusus untuk pengguna kartu e-Toll. Tidak ada petugas di gardu tol. Palang baru akan terbuka setelah kita menempelkan kartu e-Toll pada mesin pemindai yang terletak di sebelah kanan pengemudi.

Saya tidak punya kartu e-Toll. Dan sekarang tiba giliran saya untuk menempelkan kartu e-Toll pada mesin pemindai supaya palang bisa terbuka. Sementara itu, sudah ada beberapa mobil mengantre di belakang saya.

Dalam keadaan bingung (celingukan), saya hanya bisa menekan klakson beberapa kali. Saya mendengar ada orang berbicara melalui pengeras suara, tapi saya tidak bisa menangkap apa yang diucapkan.

Tak lama kemudian, petugas di gardu tol biasa yang berada di sebelah kiri saya keluar dari tempatnya. Dia berbicara dari sisi kiri mobil saya, "Khusus e-Toll, Pak!" Kemudian menghampiri saya di jendela kanan. Saya cuma bisa berucap, "Maaf, Pak."

Petugas tersebut berjalan ke mobil di belakang saya dan berkata kepada pengemudinya, "Pinjam kartunya." Lalu kembali ke sisi kanan saya dan menempelkan kartu pinjaman tersebut pada mesin pemindai. Palang terbuka.

Saya menyerahkan uang Rp 5.000 kepada petugas supaya dibayarkan kepada pengemudi di belakang saya.

Untung saya membayar dengan uang pas. Bagaimana seandainya saya tidak membayar dengan uang pas, misalnya saya membayar dengan pecahan Rp 10.000 atau Rp 20.000? Tentu akan lebih repot lagi urusannya.

Saya membayangkan bahwa petugas tersebut harus kembali dulu ke gardunya, menukar uang saya dengan pecahan yang lebih kecil, memberikan uang kembalinya kepada saya, dan membayarkan 'utang' saya sebesar Rp 5.000 kepada pengemudi di belakang saya.

Wehh, semoga pengalaman tersebut bermanfaat.

* * *

NB: Mendekati gerbang tol Cengkareng, gak baca tulisan di atasnya. Tapi kalau terlalu lama baca-baca bisa bahaya juga, mengingat kecepatan masih tinggi.

==========